Sabtu, 28 Mei 2016

Sosiolinguistik


Sosiolinguistik terapan adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari penerapan atau penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial. Penerapan atau penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial ini harus selalu memperhatikan faktor-faktor situasi, maksud pembicaraan, dan status lawan tutur. Penerapan atau penggunaan bahasa semacam itu selanjutnya lebih dikenal dengan istilah “pragmatik”.
1.   Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik bersasal dari kata “sosio” dan “ linguistic”. Sosio sama  dengan kata sosial yaitu berhubungan dengan masyarakat. Linguistik adalah ilmu  yang mempelajari dan membicarakan bahasa khususnya unsur- unsur bahasa dan  antara  unsur- unsur itu. Jadi, sosiolinguistik adalah kajian yang  menyusun  teori- teori tentang  hubungan masyarakat dengan bahasa. Berdasarkan pengertian sebelumnya, sosiolinguistik juga  mempelajari dan membahas aspek –aspek kemasyarakatan  bahasa  khususnya  perbedaan-  perbedaan yang  terdapat dalam  bahasa yang berkaitan dengan faktor- faktor kemasyarakatan     
Berdasarkan beberapa  pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa  sosiolinguistik tidak hanya  mempelajari  tentang  bahasa  tetapi juga  mempelajari tentang  aspek-  aspek bahasa yang digunakan oleh masyarakat.
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara  sosiologi dengan  linguistik, dua  bidang  ilmu empiris yang  mempunyai kaitan erat. Sosiologi merupakan  kajian yang  objektif dan  ilmiah mengenai  manusia di  dalam masyarakat, lembaga- lembaga, dan proses sosial yang ada di dalam masyarakat.
Sosiologi berusaha  mengetahui bagaimana  masyarakat iu terjadi, berlangsung, dan tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-  lembaga, proses social dan segala masalah social di dalam masyarakat, akan diketahui cara-  cara  manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bagaimana  mereka  bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya  masing- masing  di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang  mempelajari tentang bahasa, atailmu yang mengambil  bahasa  sebagai objek kajiannya. Dengan  demikian dapat dikatakan bahwa   sosiolinguistik adalah bidang  ilmu antardisipliner yang mempelajari bahasa  dalam  kaitannya  dengan penggunaan bahasa  itu dalam  masyarakat
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa  sosiolinguistik adalah antardisipliner  yang 
mempelajari bahasa  dalam kaitannya dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan tersebut.
Selain sosiolinguistik ada juga digunakan istilah sosiologi bahasa. Banyak  yang  menganggap kedua  istilah itu sama, tetapi ada  pula yang menganggapnya  berbeda. Ada  yang  mengatakan digunakannya  istilah sosiolinguistik karena  penelitiannya  dimasukii dari bidang  linguistik, sedangkan sosiologi bahasa digunakan kalau penelitian itu dimasuki dari bidang sosiologi.
Sosiolinguistik memandang bahasa pertama-tama sebagai sistem sosial dan sistekomunikasi serta  bagian dari masyarakat dan  kebudayaan tertentu. Sedangkan yang  dimaksud dengan pemakaian bahasa  adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi 

konkrit. Berdasarkan beberapa    uraian  diatas  dapat disimpulkan bahwa  sosiolinguistik berarti mempelajari tentang  bahasa  yang digunakan dalam daerah tertentu atau dialek tertentu.
Ditinjau dari nama, sosiolingustik menyangkut sosiologi dan linguistik, karena itu sosiolinguistik mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kedua kajian tersebut. Sosio adalah masyarakat, dan linguistik adalah kajian bahasa. Jadi kajiannsosiolinguistik adalah kajian tentang  bahasa  yang  dikaitkan dengan kondisi  kemasyarakatan
Berdasarkan beberapa  uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik berarti ilmu yang mempelajari tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi masyarakat tertentu.
Sosiolinguistik cenderung memfokuskan diri pada kelompok sosial serta variabel linguistik yang  digunakan dalam kelompok itu sambil  berusaha  mengkorelasikan variabel tersebut dengan unit- unit demografik tradisional pada  ilmu-ilmu sosial, yaitu umur, jenis kelamin, kelas sosio-ekonomi,  pengelompokan regioanal, status dan lain- lain.
Bahkan pada akhir-akhir ini juga  diusahakan korelasi antara  bentuk-bentuk  linguistik dan fungsi-  fungsi sosial mengungkapkan sosiolinguistik adalah bagian dari linguistik yang berkaitan dengan bahasa sebagai gejala sosial dan gejala kebudayaan.Bahasa  bukan hanya  dianggap sebagai gejala  sosial melainkan juga  gejala  kebudayaan.Implikasinya  adalah bahasa  dikaitkan dengan kebudayaan masih menjadi cakupan sosiolinguistik, dan ini  dapat dimengerti karena setiap masyarakat pasti memiliki kebudayaan tertentu.
Sebagai anggota masyarakat sosiolinguistik terikat oleh nilai-nilai budaya masyarakat, termasuk nilai-nilai ketika  dia menggunakan bahasa. Nilai selalu terkait dengan apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan ini diwujudkan dalam kaidah-kaidah yang  sebagian besar  tidak tertulis tapi dipatuhi oleh warga masyarakat. Apa pun warna batasan itu, sosiolinguistik itu meliputi tiga hal, yakni
bahasa, masyarakat, dan hubungan antara bahasadan masyarakat.
Berdasarkan batasan-batasan tentang  sosiolinguistik di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik itu meliputi tiga hal, yakni bahasa, masyarakat,
dan hubungan antara bahasa dengan masyarakat. Sosiolinguistik membahas atau mengkaji bahasa sehubungan dengan penutur ,bahasa sebagai anggota asyarakat.
Bagaimana bahasa itu digunakan untuk berkomunikasi antara anggota masyarakat yang  satu dengan yang  lainnya  untuk saling  bertukar  pendapat da  berinteraksi  antara individu satu dengan lainnya
2 . ragam bahasa dan kelas social
Di dalam Linguistik, bahasa tidak hanya dipahami sebagai tanda saja tetapi juga dipandang sebagai sistem sosial, sistem komunikasi, dan sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat tertentu. Oleh karena  itu, dalam  penelitian yang berdasarkan ancangan  sosiolinguistik akan memperhitungkan bagaimanapemakaiannya di dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial.Wujud variasi bahasa dibagi menjadi idiolek, dialek, tingkat tutur (speech levels), ragam bahasa dan register. Penjelasan kelima variasi bahasa tersebut dapat dijelaskan seperti berikut :
a.      Idiolek merupakan variasi bahasa  yang sifatnya individual, maksudnya sifat
khas tuturan seseorang berbeda dengan tuturan orang lain. Contoh : bahasa yang dapat dilihat melalui warna suara.
b.      Dialek merupakan variasi bahasa yang dibedakan oleh perbedaan asal penutur
dan perbedaan  kelas sosial penutur, oleh karena  itu,  muncul konsep dialek
geografis dan dialek sosial (sosiolek)
Contoh :enyong berarti saya  yang  digunakan di daerah  tertentu yaitu daerah banyumasan.
  1. Tingkat tutur (speech levels) merupakan variasi bahasa yang disebabkan oleh adanya perbedaan anggapan penutur tentang relasinya dengan mitra tutur. Contoh  : kita  memberikan sesuatu pada  orang yang lebih tua menggunakan bahasa  yang  berbeda  dengan  kita  memberikan  kepada  teman  yang sebaya.
  2. Ragam bahasa  merupakan variasi bahasa  yang  disebabkan oleh adanya perbedaan dari sudut penutur, tempat, pokok turunan dan situasi. Dalam kaitan dengan itu akhirnya dikenal adanya ragam bahasa resmi  (formal) dan ragam; bahasa tidak resmi (santai, akrab)  Contoh : formal “ingkang kula urmati”  biasanya terdapat pada pembukaan pidato Santai atau akrab :“nuwun yo”  mengucapkan terimakasih pada teman sebaya yang sudah akrab.
Register  merupakan variasi bahasa  yang  disebabkan oleh adanya  sifat-sifat khas keperluan pemakainya, misalnya  bahasa  tulis terdapat bahasa  iklan, bahasa  tunjuk, bahasa  artikel, dan sebagainya, dalam bahasa  lisan terdapat bahasa lawak, bahasa politik, bahasa doa, bahasa pialang dan sebagainya. Contoh :“ijuk” adalah tambang yang dipasang di dinding goa yang digunakan untuk menyebrang

Macam-Macam Variasi/Ragam Bahasa 
1.Berdasarkan pengguna nya
a Bahasa dan Pendidikan
  Variasi sosial pengguna bahasa dapat ditinjau dari status sosial dan pendidikan merupakan salah satu       bentuk dari status sosial yang keberadaannya terlihat jelas di masyarakat.Perbedaan variasi bahasa berdasarkan pendidikan bukan hanya dapat terlihat pada isi pembicaraan melainkan juga kosakata, pelafalan, morfologi, dan sintaksisnya.Ada dua ragam bahasa penutur yaitu kode terperinci dan kode terbatas. Kode terperinci biasa digunakan dalam situasi formal atau dalam situasi akademik. Ciri-cirinya mengacu pada ragam bahasa yang tinggi dan bermutu, seperti banyak menggunakan kata “saya” dalam berbahasa, menggunakan bahasa asing dengan baik, atau penggunaan bahasa yang tersusun dengan rapi secara gramatikal. Kode terbatas lebih cenderung pada situasi nonformal. Kode ini umumnya terikat pada konteks.
     Sebagai contoh variasi sosial bahasa berdasarkan pendidikan, berikut dilampirkan status pada beberapa akun sosial media facebook yang sudah dikategorikan berdasarkan umur yang sama dan tingkat pendidikan yang ditempuh berbeda.Terlihat perbedaan penggunaan kata-kata untuk setiap jenjang pendidikan yang ditempuh.
     Kelompok umur 29 tahun, ketiga objek kajian berlatarbelakang tingkat pendidikan yang sama namun berbeda jurusan. Status yang tercantum terlihat bahwa ketiganya menggunakan kode terperinci karena dapat memilih kata dengan baik, pola kalimat yang tersusun dengan rapi.              
     Kelompok umur 23 tahun, terlihat perbedaan latar belakang pendidikan yang berbeda dan hal itu sejalan dalam penggunaan kata pada status untuk ketiga objek kajian.

  •       Kelompok umur 24 tahun, secara umum sama dengan kelompok umur lain yang objeknya telah menempuh pendidikan tinggi penulisan status menggunakan kode terperinci. Bila dilihat berdasarkan isi status tersebut maka pembaca juga dapat menebak latar belakang pendidikan si penulis.
    Berdasarkan analisis status akun media sosial tersebut dapat disimpulkan bahwa latar belakang pendidikan cukup berpengaruh dalam pemilihan kata ketika berkomunikasi walaupun bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi misalnya psikologi, pekerjaan, dan lain-lain.

b.Bahasa dan Pekerjaan
Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Tiap-tiap pekerjaan memiliki registernya masing-masing. Wardhaugh mendeskripsikan register sebagai suatu set ‘language items’ yang berhubungan secara khusus dengan kelompok sosial atau kelompok pekerjaan (occupational) tertentu. Dokter, pilot, manager bank, pedagang, sopir angkot, musisi,atau bahkan mereka yang bekerja dalam dunia prostitusi memiliki register masing-masing. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ferguson ‘Orang-orang yang berkutat dalam situasi komunikasi yang terus berulang cenderung mengembangkan kosakata, intonasi, dan kepingan karakteristik sintaksis dan fonologi yang serupa yang mereka gunakan dalam situasi-situasi tersebut’. Variasi jenis inilah yang disebut register. Ferguson menambahkan bahwa ‘istilah-istilah khusus untuk objek-objek atau kejadian-kejadian tertentu yang berulang ini tampaknya membantu komunikasi agar semakin ‘cepat’. Di bawah ini diberikan contoh variasi bahasa yang berkenaan dengan pekerjaan. Contoh variasi bahasa yang digunakan dalam bidang kedokteran misalnya: “Ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. 
    Contoh variasi bahasa dalam bidang hukum misalnya:Arraignment adalah istilah common law untuk pembacaan resmi criminal complaint di hadapan defendant, untuk memberi tahu tuduhan terhadapnya. Sebagai jawaban, ia diharapkan untuk menyatakan pengakuan, misalnya "bersalah", "tidak bersalah", peremptory plea, nolo contendere, atau Alford plea. Di Inggris, arraignment adalah 11 tahap pertama dalam pengadilan, dan melibatkan seorang clerk of the court membacakan tuduhan.”
    Register yang digunakan seseorang bisa merefleksikan latar belakang orang tersebut. Tentu saja, seseorang bisa mengontrol variasi register yang ia gunakan; seseorang mungkin saja memiliki lebih dari satu profesi. Tiap register akan membantu mengungkapkan siapa diri seseorang pada waktu dan tempat tertentu. Register ini juga bisa digunakan untuk mengukur apakah seseorang ‘lebih baik’ atau ‘lebih buruk’ daripada orang lain yang seprofesi dengannya.
c.          Bahasa dan Agama
            Topik ‘bahasa dan agama’ relatifbaru dalam sosiolinguistik. Perkembangan sistematis dari ‘bahasa dan agama’ sebagai suatu bidang dalam sosiolinguistik bahkan baru dimulai sekitar satu dekade lalu. Sejarah masuknya agama sebagai salah satu faktor penting dalam variasi bahasa dimulai Haugen dan Fishman, William Stewart dan Charles Ferguson antara tahun 60-80an dimana hasil penelitian mereka membeberkan hubungan antara agama dan bahasa.
            Salah satu karya yang menjadi kerangka hubungan bahasa dan agama adalah Concise encyclopedia of language and religion (2001 dalamDarquennes danVandenbussche, 2011) yang diedit oleh Swayer dan Simpson.          
·         Bahasa dalam konteks agama tertentu
·         Tulisan dan terjemahan yang disakralkan
·         Bahasa dan naskah religius
·         Penggunaan bahasa-bahasa khusus
·         Keyakinan tentang bahasa
·         Agama dan penelitian bahasa
Kerangka kerja yang lain yang berkenaan dengan hubungan antara bahasa dan agama adalah yang dikembangkan oleh Spolsky (2006 dalam Darquennes danVandenbussche, 2011) yang terdiri dari dimensi-dimensi berikut:
1.      Efek agama terhadap bahasa:
2.      Mutualitas bahasa dan agama
3.      Efek bahasa terhadap agama
4.      Bahasa, agama dan literasi (daya baca) Bahasa dan Pranata Sosial                                                 
Selanjutnya variasi sosial pengguna bahasa pada penuturnya dapat dilihat berdasarkan pranata sosial. Pranata sosial merupakan sistem norma dalam masyarakat yang bersifat resmi untuk mengatur tingkah laku guna memenuhi kebutuhan hidup.
2).  Berdasarkan penggunaan nya
a.       Register
Konsep-  konsep mengenai register yang  digunakan sebagai acuan dalam penyusunan skripsi  diterangkan dibawah ini, pertama  adalah pengertian register dan yang  kedua  adalah bentuk register. Register merupakan ragam bahasa  yang dipergunakan untuk maksud tertentu, sebahagai kebalikan dari dialek sosial atau regional (yang bervariasi karena penuturnya) register ini dapat dibatasi menjadi lebih sempit dengan acuan pada  pokok ujaran,  pada  media  atau pada  tingkat keformalan
Register menurut merupakan konsep semantik yang dapat didefinisikan sebagai suatu susunan makna  yang  dihubungkan  secara khusus dengan susunan  tertentu dari medan,  pelibat, dan sarana.Susunan makna  register  termasuk juga  ungkapan dari ciri leksiko gramatis  dan fonologis yang secara khusus menyertai atau menyatakan makna- makna.
Register merupakan ragam bahasa berdasarkan pemakaianya, yaitu bahasa yang digunakan tergantung  pada  apa  yang sedang  dikerjakan dan sifat   kegiatannya. Register mencerminkan  aspek  lain dari tingkat sosial, yaitu  proses sosial yang  merupakan proses macam-  macam kegiatan sosial yang  biasanya melibatkan orang. Register  merupakan bentuk makna  khususnya  dihubungkan dengan konteks sosial tertentu, yang  di dalamnya  banyak kegiatan dan  sedikit percakapan, yang kadang- kadang sering disebut dengan bahasa tindakan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa sosiolinguistik menjelaskan konsep register secara  lebih sempit, yakni mengacu pada  pemakaian kosakata  khusus yang  berkaitan dengan kelompok pekerjaan yang berbeda. Di samping itu register juga merupakan variasi bahasa  yang  berbeda  satu dengan lainnya  karena  kekhasan penggunannya. Berdasarkan pada  situasi pemakaiannya  register  merupakan  variasi bahasa  menurut pemakaiannya  yang digunakan oleh sekelompok orang atau masyarakat tertentu sesuai dengan profesi dan perhatian yang sama.
Register sering dihubungkan dengan masalah dialek jika dialek berkenaan dengan bahasa  yang digunakan oleh  siapa,  di mana, dan  kapan, maka  register berkenaan dengan bahasa itu dugunakan untuk kegiatan apa. Masyarakat di daerah tertentu memiliki  dialek yang  berbeda  dengan daerah lain. Meskipun demikian, ada berbagai macam register yang muncul.Regiater tersebut disebabkan kegiatan masyarakat yang bermacam-macam.
Fungsi Register 
1.         Fungsi instrumental 
Yaitu bahasa yang berorientasi pada pendengar atau lawan tutur
 2.      Fungsi interaksi
 Yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada kontak antara pihak yang sedang  berkomunikasi. 
3.      Fungsi kepribadian atau personal 
Yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada penutur.Bahasa digunakan untuk  menyatukan hal-hal yang  bersifat pribadi
 4.      Fungsi pemecah masalah atau heuristik 
Yaitu fungsi pemakaian bahasa yang terdapat dalam ungkapan yang meminta, menurut, atau menyatakan suatu jawaban  terhadap masalah atau   persoalan. 
5.      Fungsi hayal atau imajinasi 
Yaitu fungsi pemakaian  bahasa  yang  berorientasi pada  amanat atau maksud yang  akan disampaikan. 
6.  Fungsi informasi 
Yaitu pemakaian bahasa  yang  berfungsi sebagai  alat untuk memberi suatu  berita atau informasi supaya dapat diketahui orang lain.

3). berdasarkan Tingkat Penggunaannya
aa.  Tingkat Keformalaan Bahasa
 Gaya bahasa adalah ragam bahasa yang disebabkan adanya perbedaan situasi berbahasa atau perbedaan dalam hubungan antara pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Berdasarkan tingkat keformalannya, variasi bahasa dibagi dalam lima bentuk, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate). Jika digambarkan dalam diagram seperti di bawah ini. Secara lebih detail variasi ragam bahasa tersebut dibahas di bawah ini. 
  • Ragam Beku (Frozen)
Ragam ini merupakan variasi bahasa yang paling formal dan digunakan dalam situasi-situasi khidmat dan upacara-upacara resmi seperti upacara kenegaraan, khutbah di masjid, tata cara pengambilan sumpah, kitab, undang-undang, akta notaris, dan surat keputusan. Variasi ini disebut ragam beku karena pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara mantap dan tidak boleh diubah. Dalam bentuk tertulis ragam ini dapat kita temui pada dokumen-dokumen sejarah, undang-undang dasar, akta notaris, naskah perjanjian jual beli dan surat sewa menyewa.
Ragam beku (frozen) ialah ragam bahasa yang paling formal dan digunakan dalam situasi-situasi dan upacara-upacara khidmat atau resmi, misalnya dalam upacara kenegaraan, tata cara pengambilan sumpah, dan sebagainya.
  •    Ragam Resmi (Formal)
   Variasi ini biasanya digunakan dalam pidato-pidato kenegaraan, rapat-rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, makalah, karya ilmiah, dan sebagainya. Pola dan kaidah bahasa resmi sudah ditetapkan secara standar dan mantap.
  •  Ragam Usaha (Konsultatif)
    Variasi ini lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. Jadi, dapat dikatakan bahwa ragam ini merupakan ragam yang paling operasional. Ragam ini tingkatannya berada antara ragam formal dan ragam santai.
  •  Ragam Santai (Kasual)
    Ragam ini merupakan variasi yang biasa digunakan dalam situasi yang tidak resmi seperti berbincang-bincang dengan keluarga ketika berlibur, berolah raga, berekreasi, dan sebagainya. Pada ragam ini banyak digunakan bentuk alegro atau ujaran yang dipendekkan. Unsur kata-kata pembentuknya baik secara morfologis maupun sintaksis banyak diwarnai bahasa daerah.
  •  Ragam Akrab (Intim)
    Variasi bahasa ini digunakan oleh penutur dan petutur yang memiliki hub4ungan sangat akrab dan dekat seperti dengan anggota keluarga atau sahabat karib.

4).  bahasa ( diglosia, kreol, alih kode campur kode dan infrensi bahasa)
a.  Faktor Penyebab Kontak Bahasa
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kontak bahasa dapat dikelompokan menjadi lima, yaitu 
1.Adanya dua kelompok yang berpindah ke daerah yang tak berpenghuni kemudian mereka bertemu disana
2.Perpindahan satu kelompok ke wilayah kelompok lain
3.Adanya praktek pertukaran buruh secara paksa
4. Adanya hubungan budaya yang dekat antarsesama tetangga lama  
5.Adanya pendidikan atau biasa disebut ‘kontak belajar’
       b. akibat kontak bahasa
Kontak bahasa berhubungan erat dengan terjalinnya kegiatan sosial dalam masyarakat terbuka yang menerima kedatangan anggota dari satu atau lebih masyarakat lain.
Akibat adanya kontak bahasa adalah peristiwa bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa. Berikutnya kita akan membahas satu-persatu peristiwa tersebut.
a. Bilingualisme
Bilingualisme ialah ketika seseorang telah menguasai bahasa pertama dan bahasa keduanya.Dengan demikian, bilingualisme merupakan penguasaan seseorang terhadap dua  bahasa atau lebih (bukan bahasa ibu) dengan sama baiknya. Bilingualisme terjadi pada penutur yang telah menguasai B1 (bahasa pertama) kemudian ia juga mampu berkomunikasi dengan B2 (bahasa kedua) secara bergantian seperti yang terjadi di Montreal.
b. Diglosia
Istilah diglosia digunakan untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Contoh dari bahasa Jawa terdapat bahasa Jawa Ngoko, Madya, dan Kromo. 
c. Alih kode
Alih kode merupakan peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain, baik pada tataran antarbahasa, antarvarian (baik regional atau sosial), antarregister, antarragam, dan antargaya. Secara umum alih kode adalah pergantian (peralihan) pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa, atau beberapa gaya dari satu ragam bahasa.
d. Campur kode
Bila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Tetapi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode bukan alih kode.
e.  Interferensi
Interferensi adalah penyimpangan norma bahasa masing-masing yang terjadi di dalam tuturan dwibahasawan (bilingualisme) sebagai akibat dari pengenalan lebih dari satu bahasa dan kontak bahasa itu sendiri. Interferensi meliputi interferensi fonologi, morfologi, leksikal, dan sintaksis. Contoh interferensi fonologi pada kata Bantul è mBantul. Interferensi morfologi pada kata terpukulèkepukul. Hal ini terinterferensi bahasa Indonesia oleh bahasa jawa. Interferensi sintaksis pada kalimat di sini toko laris yang mahal sendiriè toko laris adalah toko yang paling mahal di sini. Interferensi leksikon pada kata kamanah è kemana (bahasa Indonesia terinterferensi bahasa Sunda). 
f. Integrasi
Integrasi merupakan bahasa dengan unsur-unsur pinjaman dari bahasa asing dipakai dan dianggap bukan sebagai unsur pinjaman, biasanya unsur pinjaman diterima dan dipakai masyarakat setelah terjadi penyesuaian tata bunyi atau tata kata dan melalui proses yang cukup lama. Contoh police dari bahasa Inggris yang telah diintegrasikan oleh masyarakat Malaysia menjadi polis, kata research juga telah diintegrasikan menjadi riset.
g.  Konvergensi
Ketika sebuah kata sudah ada pada tingkat integrasi, maka artinya kata serapan itu sudah disetujui dan converged into the new language. Karena itu proses yang terjadi dalam integrasi ini lazim disebut dengan konvergensi.
h.  Pergesesan bahasa.
Pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Kalau seorang atau sekelompok orang penutur pindah ketempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan bercampur dengan mereka maka akan terjadi pergeseran bahasa.  Contoh pergeseran bahasa Jakarta baru-baru ini telah membuka lapangan kerja bagi para lulusan SMK untuk ditempatkan pada pabrik di kawasan jabodetabek. Kemudian para pemuda yang berasal dari SMK diseluruh Indonesia berbondong untuk menjadi pekerja di pabrik tersebut. Para pemuda yang berasal dari berbagai daerah tersebut pasti akan mengalami kontak bahasa. Ketika mereka berbicara dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa daerah, namun ketika berbicara bukan dengan penutur yang berasal dari daerah yang sama maka mereka menggunakan bahasa indonesia dialek jakarta. Dengan adanya peritiwa ini maka pergeseran bahasa sangat mungkin terjadi.

5). Etnisitas Dan Jaringan Sosial: konsep Etnisita.
a. Penggunaan Bahasa Sebagai Penanda Identitas Etnis
Etnis minoritas di suatu negara selalu berusaha untuk membedakan diri mereka dari etnis mayoritas. Contohnya, etnis minoritas tetap menggunakan bahasa asli mereka yang berbeda dengan bahasa resmi yang digunakan etnis mayoritas. Tentu saja, etnis mayoritas ada yang tidak setuju sehingga muncullah label negatif tentang penggunaan bahasa minoritas. Berikut ini akan dipaparkan status bahasa Afrika Amerika Vernakular Inggris atau bahasa Ebonik (bahasa khas kulit hitam) di Amerika dan British Black English di negara Inggris.
b. Jaringan sosial
Jaringan dalam sosiolinguistik mengacu pada pola hubungan informal orang yang terlibat secara teratur. Ada dua istilah yang telah terbukti sangat berguna untuk menggambarkan berbagai jenis jaringan – kepadatan dan kompleksitas. Kepadatan mengacu pada apakah anggota jaringan seseorang berhubungan satu sama lain. Apakah teman-teman Anda mengenal satu sama lain secara independen? Jika demikian jaringan Anda memenuhi kepadatan.

6. Pemertahanan, dan Kepunahan Bahasa
Pergeseran bahasa berkaitan dengan fenomena sosiolinguistik yang terjadi akibat adanya kontak bahasa. Pergeseran bahasa menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh sekelompok penutur yang bisa terjadi akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lain. Apabila seseorang atau sekelompok penutur pindah ke tempat lain yang menggunakan bahasa lain, dan berinteraksi dengan masyarakat tutur di wilayah tersebut, maka akan terjadilah pergeseran bahasa. Kelompok pendatang umumnya harus menyesuaikan diri dengan menanggalkan bahasanya sendiri dan menggunakan bahasa penduduk setempat. Dengan kata lain, para pendatang cenderung menyesuaikan diri dengan bahasa interlokutor. Proses pergeseran bahasa ini bisa saja diawali oleh sejumlah kecil penutur dan baru dikatakan pergeseran penuh ketika sejumlah kelompok atau guyub ikut serta melakukan penyesuain bahasa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran dan pemertahanan bahasa antara lain:
a.                   kedwibahasaan atau kemulitibahasaan
b.                  industrialisasi
c.                   imigrasi
d.                  politik
e.                   pendidikan
f.                   mobilitas sosial
g.                  efisiensi bahasa
h.                  jumlah penutur
i.                    konsentrasi pemukiman

7. Kepunahan Bahasa
Menurut beberapa ahli, faktor-faktor yang menyebabkan kepunahan bahasa Gaeltacht tersebut antara lain:
Rapuhnya upaya untuk melindungi dan mempertahankan Gaeltacht
Tidak mempunyai guyub tutur yang terpusat di perkotaan
Terjadinya modernisasi
Adanya kehendak aktif dari masyrakat untuk bergeser
    Tidak cukupnya konsentrasi masyarakat untuk menghadapi lingkungan yang kuat secara ekonomi dan canggih teknologinya
      E.     Tidak adanya pengalihan (tansmisi) bahasa asli dari orang tua kepada anak-anaknya
      F.      Tidak adanya optimisme akan masa depan bahasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar